Monday, August 15, 2005

Hari ke 5: MEMANDANG KEHIDUPAN DARI SUDUT PANDANG ALLAH

Apakah arti hidupmu?
(Yakobus 4:14b)

Kita tidak melihat hal-hal sebagaimana adanya, kita melihat hal-hal itu sebagaimana keadaan kita.
Anais Nin


Cara anda memandang kehidupan anda membentuk kehidupan anda.
Bagaimana anda mendefinisikan kehidupan menentukan masa depan anda. Perspektif anda akan mempengaruhi cara anda memanfaatkan waktu anda, membelanjakan uang anda, menggunakan talenta anda, dan menilai hubungan anda.

Salah satu cara terbaik untuk memahami orang lain adalah menanyakan mereka, "Bagaimana anda memandang kehidupan anda?" Anda akan menemukan bahwa ada banyak jawaban berbeda untuk pertanyaan tersebut sebanyak jumlah orang yang ditanyai. Saya pernah diberi tahu bahwa kehidupan adalah bagaikan sebuah sirkus, sebuah daerah ranjau, sebuah roller coaster, sebuah teka-teki, sebuah simfoni, sebuah perjalanan, dan sebuah tarian. Orang-orang berkata, "Kehidupan bagaikan roda: Kadang-kadang anda di atas, kadang anda di bawah, dan kadang anda hanya berputar-putar" atau "kehidupan bagaikan sepeda dengan kecepatan 10 dengan persneling yang tidak pernah kita pakai" atau "kehidupan bagaikan permainan kartu: Anda harus memainkan kartu yang dibagikan kepada anda."

Jika saya bertanya bagaimana anda menggambarkan kehidupan, gambar apa yang muncul di benak anda? Gambar tersebut adalah metafora kehidupan anda. Itulah pandangan tentang kehidupan yang anda pegang secara sadar atau tidak sadar, dalam pikiran anda. Itulah gambaran anda tentang bagaimana kehidupan berjalan dan apa yang anda harapkan dari kehidupan itu. Orang-orang sering kali menunjukkan metafora kehidupan mereka melalui pakaian, perhiasan, mobil, potongan rambut, tempelan stiker di bemper, bahkan tato.

Metafora kehidupan anda yang tidak diucapkan mempengaruhi kehidupan anda lebih dari yang anda sadari. Ini menentukan harapan-harapan anda, nilai-nilai anda, hubungan-hubungan anda, sasaran-sasaran anda, dan prioritas-prioritas anda. Contohnya, jika anda menganggap kehidupan adalah sebuah pesta, nilai utama anda di dalam kehidupan adalah bersenang-senang. Jika anda melihat kehidupan sebagai suatu balapan, anda akan menghargai kecepatan dan mungkin akan seringkali berada dalam ketergesa-gesaan. Jika anda memandang kehidupan sebagai suatu pertandingan lari maraton, anda akan menghargai ketekunan. Jika anda memandang kehidupan sebagai sebuah pertempuran atau permainan, menang akan menjadi sangat penting bagi anda.

Bagaimana pandangan anda tentang kehidupan? Anda mungkin mendasarkan kehidupan anda pada suatu metafora kehidupan yang keliru. Untuk memenuhi tujuan-tujuan yang untuknya Allah menciptakan anda, anda akan harus menantang pandangan umum dan menggantikannya dengan metafora Alkitab tentang kehidupan. Alkitab berkata, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna."

Alkitab memberikan tiga metafora yang mengajarkan kepada kita pandangan Allah tentang kehidupan: Kehidupan adalah sebuah ujian, kehidupan adalah sebuah kepercayaan, dan kehidupan adalah sebuah penugasan sementara. Pemikiran-pemikiran ini merupakan dasar dari kehidupan yang memiliki tujuan.

Kehidupan adalah sebuah Ujian.
Metafora kehidupan yang ini terlihat dalam kisah-kisah di seluruh Alkitab. Allah terus-menerus menguji karakter, iman, ketaatan, kasih, integritas, dan kesetiaan manusia. Kata-kata seperti pencobaan, pemurnian, dan ujian muncul lebih dari 200 kali dalam Alkitab. Allah menguji Abraham dengan menyuruhnya mempersembahkan anaknya Ishak. Allah menguji Yakub ketika dia harus bekerja beberapa tahun tambahan untuk mendapatkan Rahel sebagai istrinya.

Adam dan Hawa gagal dalam ujian mereka di Taman Eden, dan Daud gagal dalam ujiannya yang diberi Allah pada beberapa peristiwa. Tetapi Alkitab juga memberi kita banyak teladan dari orang-orang yang lulus dalam ujian besar, seperti Yusuf, Rut, Ester, dan Daniel.

Karakter dikembangkan dan ditunjukkan melalui ujian-ujian, dan seluruh kehidupan adalah ujian. Anda selalu diuji. Allah terus menerus mengamati tanggapan anda pada orang-orang, pada masalah, pada keberhasilan, pada konflik, pada penyakit, pada kekecewaan, dan bahkan pada cuaca! Allah bahkan mengamati tindakan-tindakan yang paling sederhana seperti ketika anda membuka pintu untuk orang lain, ketika anda mengangkat sepotong sampah, atau ketika anda bersikap sopan terhadap seorang juru tulis atau pelayan.

Kita tidak tahu semua ujian yang akan Allah berikan kepada anda, tetapi kita bisa memperkirakan sebagian, berdasarkan Alkitab. Anda akan diuji melalui perubahan-perubahan besar, janji-janji yang tertunda, masalah-masalah yang sulit, doa-doa yang tak terjawab, kritikan-kritikan yang tidak layak diterima, dan bahkan tragedi yang tidak masuk akal. Dalam kehidupan saya sendiri saya melihat bahwa Allah menguji iman saya melalui masalah-masalah, menguji pengharapan saya melalui cara saya menangani harta, dan menguji kasih saya melalui orang-orang.

Ujian yang sangat penting adalah bagaimana anda bertindak ketika anda tidak bisa merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan anda. Kadang-kadang Allah dengan sengaja mundur, dan kita tidak merasakan kedekatan-Nya. Seorang raja bernama Hizkia mengalami ujian ini. Alkitab berkata, "Allah meninggalkan dia untuk mencobainya, supaya diketahui segala isi hatinya." Hizkia telah menikmati suatu persekutuan yang dekat dengan Allah, tetapi pada titik penting dalam kehidupannya Allah meninggalkannya sendiri untuk menguji karakternya, untuk menunjukkan kelemahannya, dan untuk mempersiapkan dia guna menghadapi tanggung jawab yang lebih besar.

Ketika anda memahami bahwa kehidupan adalah ujian, anda menyadari bahwa tidak ada hal yang tidak penting di dalam kehidupan anda. Bahkan kejadian terkecil memiliki arti penting bagi pengembangan karakter anda. Tiap hari merupakan hari yang penting, dan setiap detik adalah kesempatan bertumbuh untuk memperdalam karakter anda, untuk menunjukkan kasih, atau untuk bergantung pada Allah. Beberapa ujian terasa sangat berat, sementara ujian lainnya bahkan tidak anda perhatikan. Tetapi semuanya memiliki makna kekal.

Kabar baiknya adalah bahwa Allah ingin agar anda lulus dalam ujian-ujian kehidupan itu, sehingga Dia tidak pernah membiarkan ujian-ujian yang anda hadapi itu melampaui kasih karunia yang dia berikan kepada anda untuk menghadapinya. Alkitab berkata, "Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya."

Setiap kali anda lulus dalam sebuah ujian, Allah melihat dan membuat rencana untuk memberi anda upah di dalam kekekalan. Yakobus berkata, "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia."

Kehidupan di bumi adalah sebuah kepercayaan.
Inilah metafora jenis kedua dalam Alkitab tentang kehidupan. Waktu yang kita miliki di bumi serta tenaga, kepandaian, kesempatan, hubungan, dan kekayaan kita, semuanya adalah pemberian dari Allah yang telah Dia percayakan dalam pemeliharaan dan pengelolaan kita. Kitalah penatalayan dari segala sesuatu yang diberikan Allah kepada kita. Konsep penatalayanan ini dimulai dengan pengakuan bahwa Allah adalah pemilik dari segala sesuatu dan semua orang di muka bumi. Alkitab berkata, "Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya."

Kita tidak pernah benar-benar memiliki apapun selama kediaman singkat kita di bumi. Allah hanya meminjamkan bumi kepada kita pada waktu kita ada di sini. Bumi adalah milik Allah sebelum anda datang, dan Allah akan meminjamkannya kepada orang lain setelah anda meninggal. Anda hanya bisa menikmatinya sesaat.

Ketika Allah menciptakan Adam dan Hawa, Dia mempercayakan pemeliharaan atas ciptaan-Nya kepada mereka dan menunjuk mereka sebagai pengelola atas milik-Nya. Alkitab berkata, "Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: 'Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, Aku memberi engkau kuasa."

Pekerjaan pertama yang Allah berikan kepada manusia adalah mengelola dan memelihara "barang-barang" Allah di bumi. Peran ini tidak pernah dibatalkan. Ini merupakan sebagian dari tujuan kita sekarang. Segala sesuatu yang kita nikmati harus diperlakukan sebagai sebuah kepercayaan yang Allah tempatkan di dalam tangan kita. Alkitab berkata, "Bukankah segala sesuatu saudara terima dari Allah? Jadi, mengapa mau menyombongkan diri, seolah-olah apa yang ada pada saudara itu bukan sesuatu yang diberi?"

Bertahun-tahun yang lalu, sepasang suami istri mengizinkan saya dan istri saya menggunakan rumah mereka yang indah di depan pantai di Hawai untuk berlibur. Inilah suatu pengalaman yang tidak pernah mampu dibeli, dan kami sangat menikmatinya. Kami diberi tahu, "Gunakan rumah itu seperti rumahmu sendiri," jadi kami melakukannya! Kami berenang di kolam, memakan makanan di kulkas, memakai handuk-handuk kamar mandi dan peralatan makan, dan bahkan melompat-lompat di tempat tidur dengan kegirangan! Tetapi kami tahu sejak semula bahwa itu bukan benar-benar milik kami, sehingga kami memberikan perawatan khusus terhadap segala sesuatu. Kami menikmati keuntungan menggunakan rumah tersebut tanpa memilikinya.

Budaya kita berkata, "Jika kamu tidak memilikinya, kamu tidak akan memperdulikannya." Tetapi orang-orang Kristen hidup dengan standar yang lebih tinggi: "karena Allah memilikinya, saya harus memeliharanya sebaik mungkin." Alkitab mengatakan, "Orang-orang yang kepada mereka dipercayakan sesuatu yang berharga harus menunjukkan bahwa mereka ternyata dapat dipercayai." Yesus sering kali menunjuk kehidupan sebagai sebuah kepercayaan dan menceritakan banyak kisah untuk menggambarkan tanggung jawab ini kepada Allah. Dalam kisah tentang talenta, seorang pengusaha mempercayakan kekayaannya kepada pemeliharaan hamba-hambanya sementara dia pergi. Ketika dia kembali, dia mengevaluasi tanggung jawab setiap hambanya dan memberi mereka upah atas itu. Sang pemilik berkata, "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu."

Pada akhir kehidupan anda di dunia, anda akan dievaluasi dan diberi upah sesuai dengan seberapa baik anda telah mengurus apa yang Allah percayakan kepada anda. Ini berarti segala sesuatu yang anda kerjakan, bahkan tugas-tugas harian yang sederhana, memiliki implikasi kekal. Jika anda memperlakukan segala sesuatu sebagai suatu kepercayaan, Allah menjanjikan tiga imbalan dalam kekekalan. Pertama, anda akan diberi peneguhan Allah: Dia akan berkata, "Baik sekali perbuatanmu!" Berikutnya, anda akan menerima promosi dan diberi tanggung jawab yang lebih besar di dalam kekekalan: "Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar." Kemudian anda akan dihormati dengan suatu perayaan:"Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu."

Banyak orang gagal menyadari bahwa uang merupakan sebuah ujian sekaligus sebuah kepercayaan dari Allah. Allah menggunakan keuangan untuk mengajar kita mempercayai-Nya, dan bagi banyak orang, uang adalah ujian terbesar. Allah melihat bagaimana kita menggunakan uang untuk menguji bagaimana kita layak dipercayai. Alkitab berkata, "Jadi, kalau mengenai kekayaan dunia ini kalian sudah tidak dapat dipercayai, siapa mau mempercayakan kepadamu kekayaan rohani?"

Inilah kebenaran yang sangat penting. Allah berfirman bahwa ada hubungan langsung antara cara saya menggunakan uang saya dengan kualitas kehidupan rohani saya. Bagaimana saya mengelola uang saya ("kekayaan dunia") menentukan seberapa banyak Allah bisa mempercayai saya dengan berkat-berkat rohani ("kekayaan rohani"). Izinkan saya bertanya kepada anda: Apakah cara anda mengelola uang anda menghalangi Allah melakukan lebih banyak hal di dalam hidup anda? Bisakah anda dipercayai dengan kekayaan-kekayaan rohani?

Yesus berkata, "Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut." Kehidupan merupakan ujian dan kepercayaan, dan semakin banyak Allah memberikan kepada anda, semakin banyak tanggung jawab yang Dia harapkan dari anda.


Pokok untuk direnungkan: Kehidupan merupakan ujian dan kepercayaan.

Ayat untuk diingat: "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar." (Lukas 16:10a)

Pertanyaan untuk dipikirkan: Apa yang telah terjadi padaku akhir-akhir ini yang sekarang aku sadari merupakan sebuah ujian dari Allah? Apakah hal-hal terbesar yang Allah percayakan kepadaku?

No comments: