Saturday, April 01, 2006

Hari ke 7: ALASAN UNTUK SEGALA SESUATU

Sebab segala sesuatu berasal dari Allah, segala sesuatu hidup oleh kuasa-Nya dan segala sesuatu itu untuk kemuliaan-Nya.
(Roma 11:36)

TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing.
Amsal 16:4


Segala sesuatu adalah bagi Dia.
Tujuan utama alam semesta adalah menunjukkan kemuliaan Allah. Itulah alasan bagi segala sesuatu yang ada, termasuk anda.

Allah menjadikan segala sesuatu bagi kemuliaan-Nya. Tanpa kemuliaan Allah, tidak akan ada apapun.

Apa itu kemuliaan Allah? Kemuliaan Allah adalah keberadaan Allah, yaitu hakikat dari sifat-Nya, luas pengaruh-Nya, pancaran kemegahan-Nya, peragaan kuasa-Nya, dan suasana kehadiran-Nya. Kemuliaan Allah adalah ekspresi dari kebaikkan-Nya dan dari semua sifat kekal hakiki-Nya yang lain.

Di manakah kemuliaan Allah? Lihat saja sekeliling. Segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah mencerminkan kemuliaan-Nya dalam beberapa hal. Kita melihatnya di mana-mana, dari bentuk kehidupan mikroskopik yang terkecil sampai Bima Sakti yang luas, dari matahari terbenam dan bintang-bintang sampai badai dan musim-musim.

Ciptaan menyatakan kemuliaan Pencipta kita. Dalam alam kita mengetahui bahwa Allah berkuasa, bahwa Dia menyukai keanekkaragaman, menyukai keindahan, bahwa Allah teratur dan bijak serta kreatif. Alkitab berkata, "Langit menceritakan kemuliaan Allah."

Sepanjang sejarah, Allah menyatakan kemuliaan-Nya kepada orang-orang dengan latar belakang yang berbeda. Dia menyatakannya pertama kali di taman Eden, kemudian kepada Musa, lalu di kemah suci dan Bait Suci, lalu melalui Yesus dan sekarang melalui gereja.

Kemuliaan Allah digambarkan seperti api yang menghanguskan, awan, gemuruh, asap, dan cahaya terang. Di surga, kemuliaan Allah memberikan terang yang dibutuhkan. Alkitab berkata, "Dan kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya."

Kemuliaan Allah yang termulia tampak dalam diri Yesus Kristus. Dia, Terang Dunia, itu menjelaskan sifat Allah. Karena Yesus, kita tidak lagi buta mengenai rupa sebenarnya dari Allah. Alkitab berkata, "Ia adalah cahaya kemuliaan Allah" Yesus turun ke bumi agar kita bisa sepenuhnya memahami kemuliaan Allah. "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya... penuh kasih karunia dan kebenaran."

Kemuliaan yang bersifat melekat pada Allah ialah apa yang Dia miliki karena Dia Allah. Itulah sifat-Nya. Kita tidak bisa menambah apapun pada kemuliaan-Nya ini, sama seperti mustahil bagi kita untuk membuat matahari bersinar lebih terang.

Tetapi kita diperintahkan untuk mengenali kemuliaan-Nya, menghormati kemuliaan-Nya, menyatakan kemuliaan-Nya, memuji kemuliaan-Nya, mencerminkan kemuliaan-Nya, dan hidup bagi kemuliaan-Nya. Mengapa? Karena Allah layak menerimanya! Kita memberikan kepada-Nya setiap penghormatan yang bisa kita berikan. Karena Allah menjadikan segala sesuatu, Dia layak menerima semua kemuliaan. Alkitab berkata, "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu."

Di seluruh alam semesta, hanya dua ciptaan Allah yang gagal mendatangkan kemuliaan bagi-Nya: malaikat-malaikat yang berdosa (setan-setan) dan kita (manusia). Segala dosa, pada dasarnya, gagal memberikan kemuliaan pada Allah. Dosa mencintai hal lain lebih daripada Allah. Menolak mendatangkan kemuliaan bagi Allah berarti memberontak dengan sombong, dan inilah dosa yang menyebabkan kejatuhan iblis, dan kejatuhan kita juga. Dengan berbagai cara kita telah hidup bagi kemuliaan diri kita sendiri, bukan kemuliaan Allah. Alkitab berkata, "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah."

Tidak seorangpun dari kita pernah memberikan kepada Allah kemuliaan penuh yang layak Dia terima dari kehidupan kita. Inilah dosa terburuk dan kesalahan terbesar yang bisa kita buat. Sebaliknya, hidup bagi kemuliaan Allah adalah prestasi terbesar yang bisa kita capai dengan kehidupan kita. Allah berkata, "Mereka adalah umat-Ku sendiri, yang kuciptakan untuk kemuliaan-Ku." sehingga kemuliaan Allah seharusnya menjadi tujuan tertinggi hidup kita.

BAGAIMANA SAYA BISA MENDATANGKAN KEMULIAAN BAGI ALLAH?

Yesus berkata kepada Bapa, "Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya." Yesus menghormati Allah dengan cara memenuhi tujuan-Nya di bumi. Kita menghormati Allah dengan cara yang sama. Bila sesuatu di dalam ciptaan memenuhi tujuannya, hal tersebut mendatangkan kemuliaan bagi Allah. Burung-burung mendatangkan kemuliaan bagi Allah dengan terbang, berkicau, membuat sarang, dan melakukan kegiatan-kegiatan lainnya yang diinginkan oleh Allah. Bahkan semut yang kecil mendatangkan kemuliaan bagi Allah bila ia memenuhi tujuan Allah baginya. Allah menciptakan semut untuk menjadi semut, dan Dia menciptkan anda untuk menjadi anda. St. Irenaeus berkata, "Kemuliaan Allah adalah seorang manusia yang benar-benar hidup!"

Ada banyak cara untuk mendatangkan kemuliaan bagi Allah, tetapi cara-cara tersebut bisa diringkas dalam lima tujuan Allah bagi kehidupan anda. Inilah garis besarnya:

Kita mendatangkan kemuliaan bagi Allah dengan menyembah-Nya.
Penyembahan adalah tanggung jawab pertama kita kepada Allah. Kita menyembah Allah dengan menikmati-Nya. C.S. Lewis berkata, "Ketika memerintahkan kita untuk memuliakan Dia, Allah mengajak kita untuk menikmati-Nya." Allah ingin agar penyembahan kita dimotivasi oleh kasih, ucapan syukur, dan sukacita, bukan kewajiban.

John Piper mencatat, "Allah paling dimuliakan di dalam kita ketika kita paling merasa puas di dalam Dia."

Penyembahan jauh lebih dari sekadar memuji, bernyanyi, dan berdoa kepada Allah. Penyembahan adalah gaya hidup yang menikmati Allah, mengasihi-Nya, dan memberi diri kita untuk dipakai bagi tujuan-tujuan-Nya. Ketika anda menggunakan kehidupan anda bagi kemuliaan Allah, segala sesuatu yang anda kerjakan bisa menjadi suatu tindakan penyembahan.
Alkitab berkata, "Gunakan seluruh anggota tubuhmu sebagai alat untuk melakukan kebenaran bagi kemuliaan Allah."

Kita mendatangkan kemuliaan bagi Allah dengan mengasihi orang-orang percaya lainnya.
Ketika anda dilahirkan kembali, anda menjadi bagian dari keluarga Allah. Mengikuti Kristus bukan sekadar masalah percaya; tetapi juga termasuk menjadi anggota dan belajar mengasihi keluarga Allah. Yohanes menulis, "Kasih kita satu sama lain membuktikan bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup." Paulus berkata, "Terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kamu; dengan demikian, Allah akan dimuliakan."

Tanggung jawab kitalah untuk belajar bagaimana mengasihi sebagaimana Allah mengasihi, karena Allah adalah kasih, dan hal tersebut berarti menghormati Dia. Yesus berkata, "Sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."

Kita mendatangkan kemuliaan bagi Allah dengan menjadi seperi Kristus.
Begitu kita dilahirkan ke dalam keluarga Allah, Dia ingin agar kita bertumbuh menuju kedewasaan rohani. Seperti apakah kedewasaan rohani itu? Kedewasaan rohani adalah menjadi serupa dengan Kristus dalam cara kita berpikir, merasa, dan bertindak. Semakin berkembang karakter anda menjadi serupa dengan Kristus, semakin besar anda mendatangkan kemuliaan bagi Allah. Alkitab berkata, "Karena Roh Tuhan bekerja di dalam kita, maka kita makin lama makin menjadi serupa dengan Dia dan makin mencerminkan kemuliaan-Nya."

Allah memberi anda kehidupan yang baru dan sifat yang baru ketika anda menerima Kristus. Sekarang, selama sisa hidup anda di dunia, Allah ingin meneruskan proses perubahan karakter anda. Alkitab berkata, "Kiranya kamu senantiasa penuh dengan buah keselamatanmu - yakni hal-hal baik yang dihasilkan dalam hidupmu oleh Yesus Kristus - karena ini akan mendatangkan banyak kemuliaan dan pujian bagi Allah."

Kita mendatangkan kemuliaan bagi Allah dengan cara melayani orang lain dengan karunia-karunia kita.
Masing-masing kita dirancang secara unik oleh Allah dengan talenta, karunia, keahlian, dan kemampuan. Cara anda "dihubungkan" bukanlah kebetulan. Allah tidak memberi anda kemampuan-kemampuan untuk tujuan-tujuan yang mementingkan diri sendiri. Kemampuan-kemampuan tersebut diberikan untuk kebaikan orang lain, sebagaimana orang lain diberikan kemampuan-kemampuan untuk kebaikan anda. Alkitab berkata, "Allah telah memberikan karunia kepada tiap-tiap orang dari aneka ragam karunia rohani yang Ia miliki. Gunakanlah karunia-karunia itu dengan baik agar kemurahan Allah dapat mengalir melalui kamu... Apakah kamu terpanggil untuk menolong orang lain? Lakukanlah hal itu dengan segenap tenaga dan kekuatan yang Allah sediakan. Maka Allah akan dimuliakan."

Kita mendatangkan kemuliaan bagi Allah dengan memberitakan kepada orang lain tentang Dia.
Allah tidak ingin kasih dan tujuan-tujuan-Nya disimpan sebagai rahasia. Begitu kita mengenal kebenaran, Allah ingin agar kita membagikannya kepada orang lain. Ini merupakan hak istimewa yang luar biasa, yaitu membawa orang lain kepada Yesus, membantu mereka menemukan tujuan mereka, dan mempersiapkan mereka untuk menghadapi kehidupan kekal mereka. Alkitab berkata, "Dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah."


UNTUK APAKAH ANDA HIDUP?

Untuk menjalani sisa hidup Anda bagi kemuliaan Allah, Anda perlu mengubah prioritas-prioritas Anda, jadwal Anda, hubungan-hubungan Anda, dan segala hal lainnya. Kadang-kadang ini berarti memilih jalan yang sukar dan bukannya yang mudah. Bahkan Yesus bergumul dengan hal ini. Sadar bahwa Dia akan disalibkan, Yesus berseru: "Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. Bapa, muliakanlah nama-Mu!."

Yesus berdiri di persimpangan jalan. Apakah Dia akan memnuhi tujuan-Nya dan mendatangkan kemuliaan bagi Allah, ataukah Dia akan mundur dan menjalani kehidupan yang nyaman yang mementingkan diri sendiri? Anda menghadapi pilihan yang sama. Akankah Anda hidup demi sasaran, kenyamanan, dan kesenangan Anda sendiri, ataukah Anda akan menjalani sisa kehidupan Anda bagi kemuliaan Allah, karena mengetahui bahwa Dia telah menjanjikan pahala kekal? Alkitab mengatakan, "Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal."

Sudah tiba saatnya untuk memutuskan masalah ini. Bagi siapakah Anda akan hidup, diri Anda sendiri atau Allah? Anda mungkin ragu-ragu, bimbang apakah Anda akan memiliki kekuatan untuk hidup bagi Allah. Jangan khawatir. Allah akan memberi Anda apa yang Anda butuhkan jika Anda membuat pilihan untuk hidup bagi Dia. Alkitab berkata, "Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib."

Sekarang Allah mengundang Anda untuk hidup bagi kemuliaan-Nya dengan memenuhi tujuan-tujuan yang untuknya Anda telah diciptakan. Inilah sebenarnya satu-satunya jalan untuk hidup. Segala sesuatu lainnya hanya sekadar ada. Kehidupan yang sesungguhnya dimulai dengan menyerahkan diri Anda sepenuhnya kepada Yesus Kristus. Jika Anda tidak yakin bhawa anda telah melakukan hal ini maka satu-satunya hal yang Anda perlu lakukan adalah menerima dan percaya. Alkitab berjanji, "Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya." Maukah Anda menerima tawaran Allah?

Pertama, percaya. Percaya bahwa Allah mengasihi Anda dan bahwa Ia menciptakan Anda untuk tujuan-tujuan-Nya. Percaya bahwa Anda ada bukan karena kebetulan. Percaya bahwa Anda diciptakan untuk hidup kekal. Percaya bahwa Allah telah memilih Anda untuk memiliki hubungan dengan Yesus, yang mati di kayu salib bagi Anda. Percaya bahwa apapun yang telah Anda perbuat, Allah ingin mengampuni Anda.

Kedua, menerima. Menerima Yesus dalam kehidupan Anda sebagai Tuhan dan Juruselamat Anda. Menerima pengampunan-Nya atas dosa-dosa Anda. Menerima Roh-Nya, yang akan memberi Anda kekuatan untuk memenuhi tujuan hidup Anda. Alkitab berkata, "Barangsiapa menerima dan percaya kepada Anak, ia beroleh segala sesuatu, yaitu kehidupan yang lengkap dan kekal." Di manapun Anda membaca buku ini, saya mengajak Anda untuk menundukkan kepada dan dengan lembut membisikkan doa yang akan mengubah kekekalan Anda: "Yesus saya percaya kepada-Mu dan saya menerima Engkau." Lanjutkanlah.

Jika Anda dengan tulus mengucapkan doa tersebut, selamat! Selamat datang dalam keluarga Allah! Anda sekarang siap untuk menemukan dan mulai hidup sesuai dengan tujuan Allah bagi kehidupan Anda. Saya menganjurkan Anda untuk memberi tahu seseorang mengenai hal itu.


Pokok untuk Direnungkan: Semuanya bagi Dia.

Ayat untuk Diingat: "Sebab segala sesuatu berasal dari Allah. Segala sesuatu hidup oleh kuasa-Nya dan segala sesuatu itu untuk kemuliaan-Nya" Roma 11:36

Pertanyaan untuk Dipikirkan: Dalam aktivitas sehari-hari manakah saya bisa menjadi lebih sadar akan kemuliaan Allah?

Wednesday, August 31, 2005

Hari ke 6: KEHIDUPAN ADALAH SUATU PENUGASAN SEMENTARA

Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku!
(Mazmur 39:5)

Hanya untuk sementara aku tinggal di dunia.
Mazmur 119:19


Kehidupan di bumi adalah suatu penugasan sementara.
Alkitab penuh dengan metafora yang mengajarkan tentang sifat kehidupan di muka bumi, yaitu bersifat singkat, sementara, dan fana. Kehidupan digambarkan seperti kabut, pelari cepat, nafas, dan segumpal asap. Alkitab berkata, "Sebab kita, anak-anak kemarin... hari-hari kita seperti bayang-bayang di bumi."

Untuk memanfaatkan kehidupan anda secara maksimal, anda jangan pernah melupakan dua kebenaran: pertama, dibandingkan dengan kekekalan, kehidupan amatlah singkat. Kedua, bumi hanyalah tempat kediaman sementara. Anda tidak akan lama berada di sini, jadi jangan terlalu terikat pada bumi. Mintalah agar Allah membantu anda melihat kehidupan di bumi sebagaimana Dia melihatnya. Daud berdoa, "TUHAN, tolong aku untuk menyadari betapa singkatnya hidupku di dunia ini! Tolong aku untuk mengetahui bahwa waktuku disini hampir habis!"

Berulang-ulang alkitab membandingkan kehidupan di bumi dengan kehidupan sementara di sebuah negeri asing. Bumi bukanlah rumah tetap atau tujuan akhir anda. Anda hanya lewat, hanya berkunjung ke bumi. Alkitab menggunakan istilah-istilah seperti [i]orang asing, peziarah, pendatang, pengunjung, dan musafir untuk menggambarkan kediaman kita yang singkat di bumi. Daud berkata, "Aku ini orang asing di dunia" dan Petrus menjelaskan, "Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, ... maka hendaklah kami hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini".

Di Kalifornia, di mana saya tinggal, banyak orang pindah dari bagian lain dunia untuk bekerja di sini, tetapi mereka mempertahankan kewarganegaraan semula mereka. Mereka diwajibkan untuk membawa kartu pendaftaran pengunjung (disebut "green card"), yang memungkinkan mereka bekerja di sini sekalipun mereka bukan warganegara. Orang-orang Kristen seharusnya membawa green card rohani untuk mengingatkan kita bahwa kewarganegaraan kita adalah di surga. Allah berkata bahwa anak-anak-Nya harus berpikir tentang kehidupan secara berbeda dengan orang-orang yang tidak percaya. "Yang mereka pikirkan hanyalah kehidupan di dunia ini. Padahal tanah air kita adalah surga, yaitu bersama dengan Juruselamat kita Tuhan Yesus Kristus." Orang-orang percaya sejati memahami bahwa kehidupan memiliki nilai jauh lebih besar daripada sekadar beberapa tahun hidup kita di planet ini.

Identitas anda ada di dalam kekekalan, dan tanah air anda adalah surga. Bila anda memahami kebenaran ini, anda akan berhenti cemas memikirkan soal "memiliki semuanya" di bumi. Allah berbicara dengan sangat jelas tentang bahayanya jika kita hidup demi waktu sekarang dan jika kita memakai nilai-nilai, prioritas-prioritas dan gaya hidup dunia sekeliling kita. Bila kita bermain-main dengan percobaan-percobaan dunia ini, Allah menyebutnya perzinahan rohani. Alkitab berkata, "Kamu tidak setia kepada Allah. Jika kamu hanya mau mengikuti kehendakmu sendiri, bermain-main dengan dunia setiap ada kesempatan, maka kamu akhirnya menjadi musuh Allah dan orang yang melawan kehendak-Nya"

Bayangkan anda diminta oleh negara anda untuk menjadi duta besar di sebuah negara musuh. Anda mungkin harus belajar bahasa yang baru dan menyesuaikan diri dengan beberapa kebiasaan dan perbedaan budaya agar bisa berlaku sopan dan bisa menyelesaikan misi anda. Sebagai seorang duta besar, anda tidak akan mampu mengisolasi diri dari musuh. Untuk menyelesaikan misi anda, anda tentu harus memiliki kontak dan berhubungan dengan mereka.

Tetapi seandainya anda menjadi begitu nyaman dengan negara asing ini sehingga anda jatuh cinta padanya, dan lebih menyukainya ketimbang tanah air anda. Kesetiaan dan komitmen anda akan berubah. Peran anda sebagai seorang duta besar akan membahayakan. Bukannya mewakili negara asal anda, anda akan memulai bertindak seperti musuh. Anda akan menjadi penghianat.

Alkitab berkata, "Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus" Yang menyedihkan, banyak orang Kristen telah menghianati Raja mereka dan kerajaan-Nya. Mereka dengan bodohnya menyimpulkan bahwa karena mereka hidup di bumi, maka bumilah rumah mereka. Padahal bukan. Alkitab dengan jelas berkata: "Saudara-saudaraku, dunia ini bukan rumahmu, karena itu jangan membuat dirimu betah di dalamnya. Jangan menurutkan keinginanmu sendiri dengan mengorbankan nyawamu" Allah memperingatkan kita untuk tidak terlalu terikat pada apa yang ada di sekeliling kita karena semua itu bersifat sementara. Kita diberi tahu, "Pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu."

Dibandingkan dengan abad-abad sebelumnya, kehidupan sekarang paling enak bagi sebagian besar dunia barat. Kita terus menerus dihibur disenangkan, dan dipuaskan. Dengan segala pertunjukan yang menawan, media yang menarik perhatian, dan pengalaman-pengalaman yang nikmat yang tersedia sekarang, mudah bagi kita untuk melupakan bahwa pengejaran kebahagiaan bukanlah tujuan kehidupan. Hanya jika kita ingat bahwa kehidupan adalah suatu ujian, suatu kepercayaan, dan suatu penugasan sementara, barulah pesona dari hal-hal tersebut kehilangan kekuasaannya atas kehidupan kita. Kita sedang bersiap-siap untuk menghadapi sesuatu yang lebih baik. "Hal-hal yang kita lihat sekarang, hari ini ada, esok sudah lenyap. Tetapi hal-hal yang tidak dapat kita lihat sekarang akan ada selamanya."

Fakta bahwa bumi bukanlah rumah terakhir kita memperjelas mengapa, sebagai pengikut-pengikut Yesus, kita mengalami kesulitan, penderitaan dan penolakan di dalam dunia ini. Hal tersebut juga menjelaskan, mengapa beberapa janji Allah tampaknya tidak digenapi, beberapa doa tampaknya tidak dijawab, dan beberapa keadaan tampaknya tidak adil. Ini bukanlah akhir kisah.

Untuk menjaga agar kita tidak menjadi terlalu terikat pada dunia, Allah membiarkan kita merasakan cukup banyak kesedihan dan ketidakpuasan di dalam kehidupan, yakni keinginan-keinginan yang tidak pernah akan terpenuhi di sisi ini dari kekekalan. Kita tidak benar-benar bahagia di sini karena seharusnya memang tidak! Bumi bukanlah rumah terakhir kita; kita diciptakan untuk sesuatu yang jauh lebih baik.

Seekor ikan tidak pernah bahagia hidup di daratan, karena ikan dijadikan untuk di air. Seekor elang tidak pernah bisa merasa puas jika hewan itu tidak dibolehkan terbang. Anda tidak akan pernah merasa benar-benar puas di bumi, karena anda dijadikan untuk sesuatu yang lebih dari itu. Anda akan memiliki saat-saat bahagia di sini, tetapi tidak ada yang sebanding dengan apa yang Allah telah rencanakan bagi anda.

Menyadari bahwa kehidupan di bumi hanyalah suatu penugasan sementara seharusnya mengubah nilai-nilai anda secara radikal. Nilai-nilai kekal, dan bukan nilai-nilai sementara, yang seharusnya menjadi faktor-faktor penentu bagi keputusan-keputusan anda. Seperti pandangan C.S. Lewis, "Segala hal yang tidak kekal tidak berguna secara kekal." Alkita berkata, "Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tidak kelihatan adalah kekal."

Mengira bahwa tujuan Allah bagi kehidupan anda adalah kekayaan materi atau keberhasilan populer sebagaimana yang didefinisikan oleh dunia adalah salah besar. Kehidupan yang berkelimpahan tidak ada kaitannya dengan kelimpahan materi, dan kesetiaan pada Allah tidak menjamin keberhasilan dalam karier dan bahkan dalam pelayanan. Jangan pernah memusatkan perhatian pada mahkota-mahkota yang sementara.

Paulus setia, tetapi dia berakhir di penjara. Yohanes pembabtis setia, tetapi dia dipenggal. Jutaan orang yang setia mati sebagai martir, kehilangan segalanya, atau mencapai ajal tanpa ada hasil apapun. Tetapi akhir kehidupan bukanlah akhirnya!

Bagi Allah, pahlawan-pahlawan iman yang paling besar bukanlah orang-orang yang mencapai kemakmuran, keberhasilan, dan kuasa di dalam kehidupan ini, melainkan orang-orang yang memperlakukan kehidupan ini sebagai suatu penugasan sementara dan melayani dengan setia, sambil mengharapkan upah yang dijanjikan kepada mereka di kekekalan. Alkitab mengatakan tentang ruang kemasyhuran Allah: "Semua orang itu tetap beriman sampai mati. Mereka tidak menerima hal-hal yang dijanjikan oleh Allah, tetap hanya melihat dan menyambutnya dari jauh. Dan dengan itu mereka menyatakan bahwa mereka hanyalah orang asing dan perantau di bumi ini... mereka merindukan sebuah negeri yang lebih baik, yaitu negeri yang di surga. Itulah sebabnya Allah tidak malu kalau mereka menyebut Dia Allah mereka." Masa hidup anda di bumi bukanlah kisah lengkap kehidupan anda. Anda harus menanti sampai surga baru bisa melihat sisa bab-bab itu. Dibutuhkan iman untuk hidup di bumi sebagai orang asing.

Sebuah kisah lama sering diceritakan ulang mengenai seseorang misionaris yang pensiun dan pulang ke Amerika sekapal dengan presiden Amerika Serikat. Kerumunan orang yang bersorak, band militer, karpet merah, bendera-bendera, dan media menyambut pulangnya presiden mereka, tetapi sang misionaris pergi diam-diam dari kapal tersebut tanpa diperhatikan. Dengan perasaan kasihan pada diri sendiri dan marah, dia mulai mengeluh kepada Allah. Kemudian Allah dengan lembut mengingatkan, "Tetapi anakKu, kau belum pulang."

Sebelum berada dua detik berada di surga anda sudah akan berseru, "Mengapa aku begitu mementingkan hal-hal yang bersifat begitu sementara? Apa yang sedang aku pikirkan? Mengapa aku menyia-nyiakan begitu banyak waktu, tenaga, dan perhatian pada apa yang tidak akan bertahan untuk selamanya?"

Ketika kehidupan menjadi sulit, ketika anda diliputi oleh keraguan, atau ketika anda bertanya-tanya dalam hati apakah hidup bagi Kristus layak diperjuangkan, ingatlah bahwa anda belum pulang. Saat kematian, anda bukan meninggalkan rumah, anda justru pulang.

Monday, August 15, 2005

Hari ke 5: MEMANDANG KEHIDUPAN DARI SUDUT PANDANG ALLAH

Apakah arti hidupmu?
(Yakobus 4:14b)

Kita tidak melihat hal-hal sebagaimana adanya, kita melihat hal-hal itu sebagaimana keadaan kita.
Anais Nin


Cara anda memandang kehidupan anda membentuk kehidupan anda.
Bagaimana anda mendefinisikan kehidupan menentukan masa depan anda. Perspektif anda akan mempengaruhi cara anda memanfaatkan waktu anda, membelanjakan uang anda, menggunakan talenta anda, dan menilai hubungan anda.

Salah satu cara terbaik untuk memahami orang lain adalah menanyakan mereka, "Bagaimana anda memandang kehidupan anda?" Anda akan menemukan bahwa ada banyak jawaban berbeda untuk pertanyaan tersebut sebanyak jumlah orang yang ditanyai. Saya pernah diberi tahu bahwa kehidupan adalah bagaikan sebuah sirkus, sebuah daerah ranjau, sebuah roller coaster, sebuah teka-teki, sebuah simfoni, sebuah perjalanan, dan sebuah tarian. Orang-orang berkata, "Kehidupan bagaikan roda: Kadang-kadang anda di atas, kadang anda di bawah, dan kadang anda hanya berputar-putar" atau "kehidupan bagaikan sepeda dengan kecepatan 10 dengan persneling yang tidak pernah kita pakai" atau "kehidupan bagaikan permainan kartu: Anda harus memainkan kartu yang dibagikan kepada anda."

Jika saya bertanya bagaimana anda menggambarkan kehidupan, gambar apa yang muncul di benak anda? Gambar tersebut adalah metafora kehidupan anda. Itulah pandangan tentang kehidupan yang anda pegang secara sadar atau tidak sadar, dalam pikiran anda. Itulah gambaran anda tentang bagaimana kehidupan berjalan dan apa yang anda harapkan dari kehidupan itu. Orang-orang sering kali menunjukkan metafora kehidupan mereka melalui pakaian, perhiasan, mobil, potongan rambut, tempelan stiker di bemper, bahkan tato.

Metafora kehidupan anda yang tidak diucapkan mempengaruhi kehidupan anda lebih dari yang anda sadari. Ini menentukan harapan-harapan anda, nilai-nilai anda, hubungan-hubungan anda, sasaran-sasaran anda, dan prioritas-prioritas anda. Contohnya, jika anda menganggap kehidupan adalah sebuah pesta, nilai utama anda di dalam kehidupan adalah bersenang-senang. Jika anda melihat kehidupan sebagai suatu balapan, anda akan menghargai kecepatan dan mungkin akan seringkali berada dalam ketergesa-gesaan. Jika anda memandang kehidupan sebagai suatu pertandingan lari maraton, anda akan menghargai ketekunan. Jika anda memandang kehidupan sebagai sebuah pertempuran atau permainan, menang akan menjadi sangat penting bagi anda.

Bagaimana pandangan anda tentang kehidupan? Anda mungkin mendasarkan kehidupan anda pada suatu metafora kehidupan yang keliru. Untuk memenuhi tujuan-tujuan yang untuknya Allah menciptakan anda, anda akan harus menantang pandangan umum dan menggantikannya dengan metafora Alkitab tentang kehidupan. Alkitab berkata, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna."

Alkitab memberikan tiga metafora yang mengajarkan kepada kita pandangan Allah tentang kehidupan: Kehidupan adalah sebuah ujian, kehidupan adalah sebuah kepercayaan, dan kehidupan adalah sebuah penugasan sementara. Pemikiran-pemikiran ini merupakan dasar dari kehidupan yang memiliki tujuan.

Kehidupan adalah sebuah Ujian.
Metafora kehidupan yang ini terlihat dalam kisah-kisah di seluruh Alkitab. Allah terus-menerus menguji karakter, iman, ketaatan, kasih, integritas, dan kesetiaan manusia. Kata-kata seperti pencobaan, pemurnian, dan ujian muncul lebih dari 200 kali dalam Alkitab. Allah menguji Abraham dengan menyuruhnya mempersembahkan anaknya Ishak. Allah menguji Yakub ketika dia harus bekerja beberapa tahun tambahan untuk mendapatkan Rahel sebagai istrinya.

Adam dan Hawa gagal dalam ujian mereka di Taman Eden, dan Daud gagal dalam ujiannya yang diberi Allah pada beberapa peristiwa. Tetapi Alkitab juga memberi kita banyak teladan dari orang-orang yang lulus dalam ujian besar, seperti Yusuf, Rut, Ester, dan Daniel.

Karakter dikembangkan dan ditunjukkan melalui ujian-ujian, dan seluruh kehidupan adalah ujian. Anda selalu diuji. Allah terus menerus mengamati tanggapan anda pada orang-orang, pada masalah, pada keberhasilan, pada konflik, pada penyakit, pada kekecewaan, dan bahkan pada cuaca! Allah bahkan mengamati tindakan-tindakan yang paling sederhana seperti ketika anda membuka pintu untuk orang lain, ketika anda mengangkat sepotong sampah, atau ketika anda bersikap sopan terhadap seorang juru tulis atau pelayan.

Kita tidak tahu semua ujian yang akan Allah berikan kepada anda, tetapi kita bisa memperkirakan sebagian, berdasarkan Alkitab. Anda akan diuji melalui perubahan-perubahan besar, janji-janji yang tertunda, masalah-masalah yang sulit, doa-doa yang tak terjawab, kritikan-kritikan yang tidak layak diterima, dan bahkan tragedi yang tidak masuk akal. Dalam kehidupan saya sendiri saya melihat bahwa Allah menguji iman saya melalui masalah-masalah, menguji pengharapan saya melalui cara saya menangani harta, dan menguji kasih saya melalui orang-orang.

Ujian yang sangat penting adalah bagaimana anda bertindak ketika anda tidak bisa merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan anda. Kadang-kadang Allah dengan sengaja mundur, dan kita tidak merasakan kedekatan-Nya. Seorang raja bernama Hizkia mengalami ujian ini. Alkitab berkata, "Allah meninggalkan dia untuk mencobainya, supaya diketahui segala isi hatinya." Hizkia telah menikmati suatu persekutuan yang dekat dengan Allah, tetapi pada titik penting dalam kehidupannya Allah meninggalkannya sendiri untuk menguji karakternya, untuk menunjukkan kelemahannya, dan untuk mempersiapkan dia guna menghadapi tanggung jawab yang lebih besar.

Ketika anda memahami bahwa kehidupan adalah ujian, anda menyadari bahwa tidak ada hal yang tidak penting di dalam kehidupan anda. Bahkan kejadian terkecil memiliki arti penting bagi pengembangan karakter anda. Tiap hari merupakan hari yang penting, dan setiap detik adalah kesempatan bertumbuh untuk memperdalam karakter anda, untuk menunjukkan kasih, atau untuk bergantung pada Allah. Beberapa ujian terasa sangat berat, sementara ujian lainnya bahkan tidak anda perhatikan. Tetapi semuanya memiliki makna kekal.

Kabar baiknya adalah bahwa Allah ingin agar anda lulus dalam ujian-ujian kehidupan itu, sehingga Dia tidak pernah membiarkan ujian-ujian yang anda hadapi itu melampaui kasih karunia yang dia berikan kepada anda untuk menghadapinya. Alkitab berkata, "Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya."

Setiap kali anda lulus dalam sebuah ujian, Allah melihat dan membuat rencana untuk memberi anda upah di dalam kekekalan. Yakobus berkata, "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia."

Kehidupan di bumi adalah sebuah kepercayaan.
Inilah metafora jenis kedua dalam Alkitab tentang kehidupan. Waktu yang kita miliki di bumi serta tenaga, kepandaian, kesempatan, hubungan, dan kekayaan kita, semuanya adalah pemberian dari Allah yang telah Dia percayakan dalam pemeliharaan dan pengelolaan kita. Kitalah penatalayan dari segala sesuatu yang diberikan Allah kepada kita. Konsep penatalayanan ini dimulai dengan pengakuan bahwa Allah adalah pemilik dari segala sesuatu dan semua orang di muka bumi. Alkitab berkata, "Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya."

Kita tidak pernah benar-benar memiliki apapun selama kediaman singkat kita di bumi. Allah hanya meminjamkan bumi kepada kita pada waktu kita ada di sini. Bumi adalah milik Allah sebelum anda datang, dan Allah akan meminjamkannya kepada orang lain setelah anda meninggal. Anda hanya bisa menikmatinya sesaat.

Ketika Allah menciptakan Adam dan Hawa, Dia mempercayakan pemeliharaan atas ciptaan-Nya kepada mereka dan menunjuk mereka sebagai pengelola atas milik-Nya. Alkitab berkata, "Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: 'Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, Aku memberi engkau kuasa."

Pekerjaan pertama yang Allah berikan kepada manusia adalah mengelola dan memelihara "barang-barang" Allah di bumi. Peran ini tidak pernah dibatalkan. Ini merupakan sebagian dari tujuan kita sekarang. Segala sesuatu yang kita nikmati harus diperlakukan sebagai sebuah kepercayaan yang Allah tempatkan di dalam tangan kita. Alkitab berkata, "Bukankah segala sesuatu saudara terima dari Allah? Jadi, mengapa mau menyombongkan diri, seolah-olah apa yang ada pada saudara itu bukan sesuatu yang diberi?"

Bertahun-tahun yang lalu, sepasang suami istri mengizinkan saya dan istri saya menggunakan rumah mereka yang indah di depan pantai di Hawai untuk berlibur. Inilah suatu pengalaman yang tidak pernah mampu dibeli, dan kami sangat menikmatinya. Kami diberi tahu, "Gunakan rumah itu seperti rumahmu sendiri," jadi kami melakukannya! Kami berenang di kolam, memakan makanan di kulkas, memakai handuk-handuk kamar mandi dan peralatan makan, dan bahkan melompat-lompat di tempat tidur dengan kegirangan! Tetapi kami tahu sejak semula bahwa itu bukan benar-benar milik kami, sehingga kami memberikan perawatan khusus terhadap segala sesuatu. Kami menikmati keuntungan menggunakan rumah tersebut tanpa memilikinya.

Budaya kita berkata, "Jika kamu tidak memilikinya, kamu tidak akan memperdulikannya." Tetapi orang-orang Kristen hidup dengan standar yang lebih tinggi: "karena Allah memilikinya, saya harus memeliharanya sebaik mungkin." Alkitab mengatakan, "Orang-orang yang kepada mereka dipercayakan sesuatu yang berharga harus menunjukkan bahwa mereka ternyata dapat dipercayai." Yesus sering kali menunjuk kehidupan sebagai sebuah kepercayaan dan menceritakan banyak kisah untuk menggambarkan tanggung jawab ini kepada Allah. Dalam kisah tentang talenta, seorang pengusaha mempercayakan kekayaannya kepada pemeliharaan hamba-hambanya sementara dia pergi. Ketika dia kembali, dia mengevaluasi tanggung jawab setiap hambanya dan memberi mereka upah atas itu. Sang pemilik berkata, "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu."

Pada akhir kehidupan anda di dunia, anda akan dievaluasi dan diberi upah sesuai dengan seberapa baik anda telah mengurus apa yang Allah percayakan kepada anda. Ini berarti segala sesuatu yang anda kerjakan, bahkan tugas-tugas harian yang sederhana, memiliki implikasi kekal. Jika anda memperlakukan segala sesuatu sebagai suatu kepercayaan, Allah menjanjikan tiga imbalan dalam kekekalan. Pertama, anda akan diberi peneguhan Allah: Dia akan berkata, "Baik sekali perbuatanmu!" Berikutnya, anda akan menerima promosi dan diberi tanggung jawab yang lebih besar di dalam kekekalan: "Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar." Kemudian anda akan dihormati dengan suatu perayaan:"Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu."

Banyak orang gagal menyadari bahwa uang merupakan sebuah ujian sekaligus sebuah kepercayaan dari Allah. Allah menggunakan keuangan untuk mengajar kita mempercayai-Nya, dan bagi banyak orang, uang adalah ujian terbesar. Allah melihat bagaimana kita menggunakan uang untuk menguji bagaimana kita layak dipercayai. Alkitab berkata, "Jadi, kalau mengenai kekayaan dunia ini kalian sudah tidak dapat dipercayai, siapa mau mempercayakan kepadamu kekayaan rohani?"

Inilah kebenaran yang sangat penting. Allah berfirman bahwa ada hubungan langsung antara cara saya menggunakan uang saya dengan kualitas kehidupan rohani saya. Bagaimana saya mengelola uang saya ("kekayaan dunia") menentukan seberapa banyak Allah bisa mempercayai saya dengan berkat-berkat rohani ("kekayaan rohani"). Izinkan saya bertanya kepada anda: Apakah cara anda mengelola uang anda menghalangi Allah melakukan lebih banyak hal di dalam hidup anda? Bisakah anda dipercayai dengan kekayaan-kekayaan rohani?

Yesus berkata, "Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut." Kehidupan merupakan ujian dan kepercayaan, dan semakin banyak Allah memberikan kepada anda, semakin banyak tanggung jawab yang Dia harapkan dari anda.


Pokok untuk direnungkan: Kehidupan merupakan ujian dan kepercayaan.

Ayat untuk diingat: "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar." (Lukas 16:10a)

Pertanyaan untuk dipikirkan: Apa yang telah terjadi padaku akhir-akhir ini yang sekarang aku sadari merupakan sebuah ujian dari Allah? Apakah hal-hal terbesar yang Allah percayakan kepadaku?

Friday, August 05, 2005

Hari ke 4: DICIPTAKAN UNTUK KEKEKALAN

Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka.
[Pengkhotbah 3:11]

Tentu Allah tidak akan menciptakan makhluk seperti manusia hanya untuk hidup sehari! Tidak, tidak, manusia diciptakan untuk kekekalan.
Abraham Lincoln


Kehidupan ini bukan hanya yang ada sekarang.
kehidupan di bumi hanyalah gladi bersih sebelum pelaksanaan yang sesungguhnya. Anda akan menghabiskan jauh lebih banyak waktu di sisi lain dari sesusah kematian, yaitu di dalam kekekalan, daripada waktu di bumi ini. Bumi adalah daerah persiapan, pra-sekolah, uji coba bagi kehidupan anda di kekekalan. Inilah masa latihan sebelum permainan yang sesungguhnya; putaran pemanasan sebelum pertandingan dimulai. Kehidupan ini adalah persiapan untuk menghadapi kehidupan berikutnya.

Anda bisa hidup paling tinggi seratus tahun di bumi, tetapi anda akan hidup selamanya di kekekalan. Waktu anda di bumi, seperti yang dikatakan oleh Sir Thomas Browne, "hanyalah tanda kurung kecil di dalam kekekalan." Anda diciptakan untuk hidup selama-lamanya.

Alkitab berkata, "Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka." Anda memiliki suatu naluri bawaan yang merindukan kekekalan. Ini karena Allah merancang anda, menurut gambar-Nya, untuk hidup kekal. Sekalipun kita tahu bahwa semua orang akhirnya meninggal, kematian selalu terasa tidak wajar dan tidak adil. Alasannya mengapa kita merasa bahwa seharusnya kita hidup selamanya adalah karena Allah melengkapi otak kita dengan keinginan tersebut!

Suatu hari jantung anda akan berhenti berdetak. Ini akan merupakan akhir tubuh anda dan waktu anda di bumi, tetapi tidak akan merupakan akhir dari diri anda. Tubuh duniawi anda hanyalah kediaman sementara bagi roh anda. Alkitab menyebut tubuh duniawi anda suatu "kemah," tetapi menunjuk kepada tubuh masa depan anda sebagai sebuah "rumah." Alkitab berkata, "Jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia."

Sementara kehidupan di bumi menawarkan banyak pilihan, kekekalan menawarkan hanya dua pilihan: surga atau neraka. Hubungan anda dengan Allah di bumi akan menentukan hubungan anda dengan-Nya di dalam kekekalan. Jika anda belajar untuk mengasihi dan mempercayai Anak Allah, Yesus, anda akan diundang untuk menghabiskan kekekalan anda bersama dengan Dia. Sebaliknya, jika anda menolak kasih, pengampunan, dan keselamatan-Nya, Anda akan menghabiskan kekekalan anda terpisah dari Allah selamanya.

C.S. Lewis berkata, "Ada dua macam orang: yaitu orang-orang yang berkata kepada Allah 'Jadilah kehendak-Mu' dan orang-orang yang kepada mereka Allah berkata, "Baiklah kalau begitu, pilihlah sesuai keinginanmu." Tragisnya, banyak orang harus menjalani kekekalan tanpa Allah karena mereka memilih untuk hidup tanpa Dia di muka bumi ini.

Apabila anda sepenuhnya memahami bahwa kehidupan ini bukan sekadar yang ada sekarang, dan anda memahami bahwa kehidupan hanyalah persiapan untuk menghadapi kekekalan, anda akan mulai hidup dengan berbeda. Anda akan mulai hidup dalam terang kekekalan, dan itu akan mewarnai cara anda menangani semua hubungan, tugas, dan keadaan. Tiba-tiba banyak kegiatan, sasaran, dan bahkan masalah yang tampak begitu penting akan kelihatan tidak penting, kecil, dan tidak layak mendapatkan perhatian anda. Semakin dekat anda hidup dengan Allah, semakin kecil kelihatannya segala sesuatu yang lain.

Ketika anda hidup dengan mempertimbangkan kekekalan, nilai-nilai anda berubah. Anda menggunakan waktu dan uang anda secara lebih bijak. Anda menghargai lebih tinggi pada hubungan dan karakter daripada kepopuleran atau kekayaan atau prestasi atau bahkan kesenangan. Prioritas-prioritas anda ditata ulang. Soal mengikuti trend, model pakaian, dan nilai-nilai populer tidaklah penting lagi. Paulus berkata, "Aku pernah menganggap semua hal ini sangat penting, tetapi sekarang aku menganggap semua itu tidak berharga karena apa yang telah Kristus lakukan."

Jika waktu anda di dunia saja yang merupakan kehidupan anda, saya akan menganjurkan agar anda segera menikmati hidup anda sepuas-puasnya. Anda bisa mengabaikan soal bersikap baik dan etis, dan anda tidak perlu khawatir tentang segala akibat dari tindakan anda. Anda bisa menuruti keinginan hati untuk hidup dengan mementingkan diri secara mutlak karena tindakan-tindakan anda tidak akan memiliki akibat jangka panjang. Tetapi, dan inilah yang mempengaruhi keadaan, kematian bukanlah akhir dari diri anda! Kematian bukanlah akhir hidup anda, tetapi merupakan perpindahan anda menuju kekekalan, karena itu ada akibat-akibat kekal untuk segala sesuatu yang anda lakukan di dunia. Setiap tindakan dalam hidup kita memberi pengaruh untuk kehidupan kita dalam kekekalan.

Aspek yang paling merusak dari kehidupan zaman sekarang adalah cara berpikir untuk jangka pendek. Untuk memanfaatkan kehidupan anda sebaik mungkin, anda harus memelihara visi kekekalan terus menerus di dalam benak anda dan nilai kekekalan itu di dalam hati anda. Kehidupan sama sekali bukan hanya yang dijalani sekarang! Sekarang ini adalah puncak yang kelihatan dari gunung es. Kekekalan adalah semua sisa gunung es yang tidak anda lihat dibawah permukaan.

Seperti apakah keadaannya kelak di dalam kekekalan bersama Allah? Terus terang, kemampuan otak kita tidak bisa menghadapi keajaiban dan kehebatan sorga. Itu sama seperti mencoba menggambarkan internet kepada seekor semut. Tidak ada gunanya. Belum ditemukan kata-kata yang mungkin bisa menyampaikan pengalaman kekekalan. Alkitab berkata, "Tidak seorang manusiapun pernah melihat, mendengar ataupun membayangkan hal-hal indah yang disediakan Allah bagi orang yang mengasihi Dia."

Namun, Allah telah telah memberikan kepada kita penglihatan sekilas tentang kekekalan di dalam Firman-Nya. Kita mengetahui bahwa saat ini juga Allah sedang mempersiapkan sebuah rumah kekal bagi kita. Di surga kita akan dipersatukan kembali dengan saudara-saudara kita yang adalah orang-orang percaya, dibebaskan dari segala penderitaan dan kesusahan, diberi upah atas kesetiaan kita di bumi, dan ditugaskan kembali untuk melakukan pekerjaan yang akan senang kita lakukan. Kita bukan akan berbaring di awan-awan dengan makhota dengan memainkan harpa! Kita akan menikmati hubungan yang tidak pernah putus dengan Allah, dan Dia akan memiliki kita untuk selama-lamanya. Suatu hari Yesus akan berkata, "Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan."

Allah memiliki suatu tujuan bagi kehidupan anda di dunia, tetapi itu tidak berakhir di sini. Rencana-Nya mencakup jauh lebih banyak daripada beberapa dekade yang akan anda habiskan di planet ini. Itu bukan sekadar "kesempatan seumur hidup"; Allah memberi anda suatu kesempatan yang jauh melebihi umur hidup anda. Alkitab berkata, "Rencana Tuhan tetap selama-lamanya, tujuan-tujuan-Nya kekal."

Satu-satunya waktu di mana sebagian besar orang berpikir tentang kekekalan adalah pada saat pemakaman, dan waktu itu pemikiran tersebut sering hanya bersifat dangkal, dan sentimental, yang didasarkan pada ketidaktahuan. Anda mungkin merasa tidak wajar kalau orang memikirkan kematian, tetapi sebenarnya tidak sehat kalau orang hidup dengan menolak kematian dan tidak memikirkan hal yang tidak mungkin dielakkan. Hanya orang bodoh yang akan menjalani kehidupan tanpa bersiap-siap menghadapi apa yang kita semua tahu akan menjadi akhirnya. Anda perlu berpikir lebih banyak tentang kekekalan, jangan lebih sedikit.

Sama seperti kesembilan bulan yang anda habiskan di dalam rahim ibu anda bukanlah suatu akhir tetapi persiapan untuk menghadapi kehidupan, demikian juga kehidupan ini merupakan persiapan untuk menghadapi kehidupan berikutnya. Jika anda memiliki suatu hubungan dengan Allah melalui Yesus, anda tidak perlu takut akan kematian. Itulah pintu menuju kekekalan. Kematian akan menjadi jam terakhir dari waktu anda di bumi, tetapi bukan akhir dari diri anda. Bukannya merupakan akhir dari kehidupan anda, kematian justru merupakan hari kelahiran anda ke dalam kehidupan kekal. Alkitab berkata, "Sebab dunia ini bukanlah tempat tinggal kita; dengan penuh pengharapan kita menantikan tempat tinggal kita yang kekal di surga."

Dibandingkan dengan kekekalan, waktu kita di bumi hanyalah sekejap mata, tetapi akibatnya akan kekal. Perbuatan-perbuatan dalam kehidupan ini menentukan nasib dalam kehidupan berikutnya. Kita seharusnya "Sadar bahwa selama kita masih hidup di dunia ini selama itu pula kami jauh dari surga, tempat Yesus berada." Bertahun-tahun lalu sebuah slogan populer mendorong orang-orang untuk hidup setiap hari seperti "hari petama dari sisa hidup anda." Sesungguhnya, akan lebih bijak untuk hidup setiap hari seolah-olah hari ini adalah hari terakhir kehidupan anda. Matthew Henry berkata, "Seharusnya setiap hari kita bersiap-siap untuk menghadapi hari terakhir kita."

Tuesday, August 02, 2005

Hari ke 3: APA YANG MENGGERAKKAN KEHIDUPAN ANDA?

Aku melihat bahwa pada dasarnya segala jerih payah dan keberhasilan orang didorong oleh perasaan iri hatinya
[Pengkothbah 4:4]

Manusia tanpa suatu tujuan adalah ibarat sebuah kapal tanpa kemudi - anak terlantar, hal sia-sia, bukan siapa-siapa.
Thomas Carlyle


Kehidupan setiap orang digerakkan oleh sesuatu.
Banyak kamus mendefinisikan kata kerja menggerakkan sebagai "membimbing, mengendalikan, atau mengarahkan." Entah anda menggerakkan sebuah mobil, sebuah paku, atau bola golf, anda sedang membimbing, mengendalikan, dan mengarahkannya pada saat itu. Apakah yang menjadi daya penggerak di dalam kehidupan anda ?

Sekarang anda mungkin digerakkan oleh suatu masalah, suatu tekanan, atau suatu batas waktu. Anda mungkin digerakkan oleh ingatan yang menyedihkan, ketakutan yang menghantui, atau suatu keyakinan yang tidak disadari. Ada ratusan kondisi, nilai, dan emosi yang bisa menggerakkan kehidupan anda. Berikut ini ada lima penggerak yang paling umum:

1. Banyak orang digerakkan oleh rasa bersalah.
Mereka menghabiskan seluruh hidup mereka dengan berlari dari rasa penyesalan dan menyembunyikan rasa malu mereka. orang-orang yang digerakkan oleh rasa bersalah dimanipulasi oleh ingatan-ingatan mereka. Mereka membiarkan masa lalu mereka mengendalikan masa depan mereka. Mereka sering kali secara tidak sadar menghukum diri sendiri dengan merusakkan keberhasilan mereka sendiri. Ketika Kain berdosa, rasa bersalahnya memisahkan diri dari hadirat Allah, dan Allah berfirman, "Engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi." Hal tersebut menggambarkan sebagian besar orang saat ini, yang menjalani kehidupan tanpa suatu tujuan.

Kita adalah produk dari masa lalu kita, tetapi kita tidak perlu menjadi tawanan masa lalu. Tujuan Allah tidak dibatasi oleh masa lalu anda. Dia mengubah seorang pembunuh bernama Musa menjadi seorang pemimpin dan seorang pengecut bernama Gideon menjadi seorang pahlawan yang gagah berani, dan Dia juga mampu melakukan hal-hal ajaib dalam sisa hidup anda. Allah ahli dalam memberi orang-orang suatu awal yang baru. Alkitab berkata, "Alangkah bahagianya orang-orang yang kesalahannya telah diampunkan!... Alangkah leganya hati orang yang telah mengakui dosa-dosanya dan Allah telah menghapus semua dosa itu."

2. Banyak orang digerakkan oleh kebencian dan kemarahan.
Mereka mempertahankan kepahitan dan tidak pernah sembuh darinya. Bukannya melepaskan penderitaan mereka melalui pengampunan, mereka mengulanginya berkali-kali dalam pikiran mereka. Sebagian orang yang digerakkan oleh kebencian bersikap "bungkam" dan menyimpan sendiri kemarahan mereka, sementara sebagian lain bersikap "amat marah" dan mencetuskannya kepada orang lain. Kedua tanggapan tersebut tidak sehat dan tidak berguna.

Kebencian selalu lebih melukai anda ketimbang orang yang anda benci. Sementara orang yang menyakiti anda mungkin telah melupakan perbuatan mereka tersebut dan melanjutkan hidup, anda terus dipenuhi penderitaan anda, dengan mengabadikan masa lalu.
Perhatikan: Orang-orang yang melukai anda pada masa lalu tidak mungkin terus melukai anda sekarang kecuali jika anda mempertahankan rasa sakit itu melalui kebencian. Masa lalu anda adalah masa lalu! Tidak ada yang bisa mengubahnya. Anda hanya melukai diri dengan kepahitan anda. Demi diri anda sendiri, belajarlah dari masa lalu tersebut, lalu jangan mengingatnya lagi. Alkitab berkata, "Hanyalah orang yang bodoh saja yang mati sebab sakit hatinya."

3. Banyak orang digerakkan oleh rasa takut.
Ketakutan-ketakutan mereka mungkin merupakan akibat dari adanya pengalaman traumatis, harapan-harapan yang tidak masuk akal, bertumbuh dalam keluarga dengan pengawasan keras, atau bahkan kecenderungan genetik. Tanpa memandang penyebabnya, orang-orang yang digerakkan oleh ketakutan sering kali kehilangan kesempatan-kesempatan besar karena mereka takut untuk menanggung risiko. Sebaliknya, mereka mencari aman, menghindari risiko-risiko dan berupaya untuk memelihara status quo.

Ketakutan adalah penjara yang dibangun oleh diri sendiri yang akan menghalangi anda untuk menjadi apa yang Allah maksudkan bagi anda. Anda harus bergerak melawannya dengan senjata iman dan kasih. Alkitab mengatakan, Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih."

4. Banyak orang digerakkan oleh materialisme.
Keinginan mereka untuk memiliki menjadi keseluruhan sasaran kehidupan mereka. Gerakkan hati untuk selalu ingin lebih ini didasarkan pada kesalahpahaman bahwa memiliki lebih banyak akan membuat orang lebih bahagia, lebih penting, dan lebih aman, tetapi ketiga gagasan ini tidak benar. Hal-hal yang dimiliki hanya memberikan kebahagiaan sementara. Karena hal-hal tidak berubah, kita akhirnya menjadi bosan dengannya, dan selanjutnya mengingini jenis-jenis yang lebih baru, yang lebih besar, dan lebih baik.

Juga hanya mitos yang menyatakan bahwa jika saya mendapat lebih banyak, saya akan menjadi lebih penting. Nilai diri sendiri dan nilai hal-hal yang anda miliki tidaklah sama. Nilai anda tidaklah ditentukan oleh barang-barang berharga anda. Dan Allah berfirman bahwa hal-hal yang paling berharga dalam kehidupan bukanlah barang-barang!

Mitos yang paling umum mengenai uang adalah bahwa memiliki lebih banyak uang akan membuat saya lebih aman. Tidak akan demikian. Kekayaan bisa hilang dalam sekejap melalui berbagai faktor yang tidak bisa dikendalikan. Rasa aman yang sesungguhnya hanya bisa ditemukan di dalam apa yang tidak pernah bisa diambil dari anda, yaitu hubungan anda dengan Allah.

5. Banyak orang digerakkan oleh kebutuhan akan pengakuan.
Mereka membiarkan harapan-harapan orang-tua atau pasangan atau anak atau guru-guru atau teman mengendalikan kehidupan mereka. Banyak orang dewasa tetap berusaha untuk mendapatkan pengakuan orang-tua yang tidak bisa disenangkan. Orang lain digerakkan oleh tekanan teman sebaya, lalu khawatir oleh apa yang mungkin dipikirkan oleh orang lain. Sayangnya, orang-orang yang mengikuti orang banyak biasanya terpengaruh oleh pantangan orang banyak itu.

Saya tidak mengetahui semua kunci menuju keberhasilan, tetapi salah satu kunci menuju kegagalan adalah berusaha menyenangkan semua orang. Dikendalikan oleh pendapat orang lain adalah cara yang pasti untuk kehilangan tujuan-tujuan Allah bagi kehidupan anda. Yesus berkata, " Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan."

Ada kekuatan lain yang bisa menggerakkan kehidupan anda, tetapi semuanya akan membawa kepada jalan buntu yang sama: potensi yang tidak digunakan, rasa tertekan yang tidak perlu, dan kehidupan yang tidak memuaskan.

Perjalanan empat puluh hari ini akan menunjukkan kepada anda bagaimana menjalani suatu kehidupan yang memiliki kehidupan - suatu kehidupan yang dituntun, dikendalikan, dan dipimpin oleh suatu tujuan-tujuan Allah. Tidak ada hal yang lebih penting daripada mengetahui tujuan-tujuan Allah bagi kehidupan anda, dan tidak ada yang bisa mengganti kerugiannya jika anda tidak mengetahui tujuan-tujuan tersebut, entah itu keberhasilan, kekayaan, kepopuleran, atau pun kesenangan. Tanpa suatu tujuan, kehidupan bagaikan gerakan tanpa makna, kegiatan tanpa arah, dan peristiwa tanpa alasan. Tanpa suatu tujuan, kehidupan tidak berarti.

BERBAGAI MANFAAT KEHIDUPAN YANG DIGERAKKAN OLEH TUJUAN

Ada lima manfaat besar dari kehidupan yang memiliki tujuan:
Mengenali tujuan anda memberi makna bagi kehidupan anda.
Kita diciptakan untuk memiliki makna. Itulah sebabnya manusia mencoba metode-metode yang meragukan, seperti astrologi atau fisika, untuk menemukan makna tersebut. Apabila kehidupan memiliki makna, anda bisa menanggung hampir segala hal; tanpa makna, tidak ada sesuatupun yang bisa ditanggung.

Seorang anak muda yang berusia dua puluhan menulis, "Saya merasa gagal karena saya berjuang untuk menjadi sesuatu, dan saya bahkan tidak mengetahui apa sesuatu itu. Satu-satunya cara bertindak yang saya ketahui adalah bertahan. Suatu hari, jika saya menemukan tujuan saya, saya akan merasa mulai hidup."

Tanpa Allah, kehidupan tidak memiliki tujuan, dan tanpa tujuan, kehidupan tidak memiliki makna. Tanpa makna, kehidupan tidak memiliki arti atau harapan. Dalam Alkitab, bermacam-macam orang mengekspresikan keputusasaan ini. Yesaya mengeluh, "Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna." Ayub berkata, "Hari-hari hidupku meluncur dengan cepatnya, habis tanpa harapan." dan "Aku jemu, aku tidak mau hidup untuk selama-lamanya. Biarkanlah aku, karena hari-hariku hanya seperti hembusan nafas saja." Tragedi terbesar bukanlah kematian,
melainkan kehidupan tanpa tujuan.

Harapan sama pentingnya seperti udara dan air bagi kehidupan anda. Anda membutuhkan harapan untuk bertahan hidup. Dr. Bernie Siegel merasa dia bisa memperkirakan pasien kanker yang mana yang akan mengalami pengurangan penyakit dengan bertanya, "Apakah anda ingin hidup sampai seratus tahun?" Pasien dengan perasaan memiliki tujuan hidup menjawab ya dan merupakan orang-orang yang paling mungkin bertahan hidup. Harapan muncul karena ada tujuan.

Jika anda merasa putus asa, bertahanlah! Perubahan-perubahan yang mengagumkan akan terjadi dalam kehidupan anda ketika anda mulai menjalaninya dengan suatu tujuan. Allah berfirman, "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu,... yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." Anda mungkin merasa sedang menghadapi suatu situasi yang mustahil, tetapi Alkitab berkata, "Allah... dapat melakukan jauh lebih banyak hal daripada yang berani kita bayangkan - sama sekali melebihi segala doa, keinginan, pikiran dan pengharapan kita."

Mengenali tujuan anda memudahkan kehidupan anda.
Tujuan hidup menetapkan apa yang anda kerjakan dan apa yang tidak anda kerjakan. Tujuan anda menjadi patokan yang anda pakai untuk mengevaluasi kegiatan-kegiatan mana yang penting dan mana yang tidak. Anda hanya bertanya, "Apakah kegiatan ini membantu saya memenuhi salah satu dari tujuan Allah bagi kehidupan saya?"

Tanpa suatu tujuan yang jelas anda tidak memiliki dasar di mana anda melandasi keputusan anda, membagi waktu anda, dan menggunakan sumber daya anda. Anda akan cenderung membuat pilihan-pilihan berdasarkan situasi, tekanan, dan suasana hati anda kala itu. Orang-orang yang tidak mengenali tujuan mereka berusaha untuk melakukan terlalu banyak hal - dan hal itulah yang menyebabkan rasa tertekan, kelelahan, dan konflik.

Mustahil melakukan segala hal yang orang lain ingin anda lakukan. Anda hanya memiliki cukup waktu untuk melakukan kehendak Allah. Jika anda tidak bisa menyelesaikan semuanya, itu berarti anda sedang mencoba melakukan lebih dari apa yang Allah maksudkan untuk anda lakukan (atau mungkin anda terlalu banyak menonton televisi). Kehidupan yang memiliki tujuan membawa pada gaya hidup yang lebih sederhana dan jadwal yang lebih terkendali. Alkitab berkata, "Kehidupan yang mewah dan suka pamer adalah kehidupan yang kosong; kehidupan yang biasa dan sederhana adalah kehidupan yang penuh." Kehidupan yang
memiliki tujuan juga membawa kepada ketenangan pikiran" "Engkau, TUHAN, memberikan damai sejahtera yang sempurna kepada orang-orang yang mengikuti dengan teguh tujuan mereka dan menaruh kepercayaan mereka kepada-Mu."

Mengenali tujuan anda membuat kehidupan anda memiliki fokus.
Tujuan itu akan memusatkan usaha dan energi anda pada apa yang penting. Anda menjadi efektif karena bersikap selektif. Sudah merupakan sifat manusia untuk bingung karena soal-soal kecil. Kita bermain Trivial Pursuit (mengejar hal-hal sepele) dengan hidup kita. Henry David Thoreau mengamati bahwa banyak orang menjalani kehidupan "putus asa secara diam," tetapi sekarang gambaran yang lebih baik adalah bingung tanpa tujuan. Banyak orang seperti giroskop, yang berputar dengan kecepatan luar biasa, tetapi tidak pernah beranjak ke manapun.

Tanpa tujuan yang jelas, anda akan terus mengubah arah, pekerjaan, hubungan, gereja, atau lingkungan - dengan berharap bahwa setiap perubahan akan menghentikan kebingungan atau mengisi kekosongan di dalam hati anda. Anda berpikir, mungkin sekarang akan berbeda, tetapi itu tidak memecahkan masalah anda yang sesungguhnya, yaitu kurang fokus dan tujuan. Alkitab berkata, "Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan."

Kuasa karena memiliki fokus adalah ibarat cahaya. Cahaya yang menyebar memiliki sedikit kuasa atau pengaruh, tetapi anda bisa memusatkan energinya dengan memfokuskannya. Dengan kaca pembesar, sinar matahari bisa difokuskan untuk membakar rumput atau kertas. Ketika cahaya lebih difokuskan lagi seperti sinar laser, ia bisa memotong baja.

Kekuatan dari suatu kehidupan yang terfokus hampir tidak ada duanya, yaitu kehidupan yang dijalani berdasarkan tujuan. Laki-laki dan perempuan yang berpengaruh paling besar dalam sejarah adalah orang-orang yang sangat terfokus. Misalnya, rasul Paulus nyaris sendirian menyebarkan Agama Kristen di seluruh kekaisaran Romawi. Rahasianya adalah kehidupan yang terfokus. Paulus berkata, "Aku memfokuskan seluruh tenagaku pada satu hal ini: Melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku."

Jika anda ingin hidup anda memiliki pengaruh, fokuskanlah! Berhentilah bermain-main. Berhentilah mencoba melakukan segala hal. Kurangi hal-hal yang anda lakukan. Bahkan kurangi kegiatan-kegiatan yang baik dan hanya melakukan hal-hal yang paling penting. Jangan pernah mengacaukan antara aktivitas dengan produktivitas. Anda bisa sibuk tanpa memiliki tujuan, tetapi apa gunanya? Paulus berkata, "marilah kita tetap fokus pada sasaran itu, kita yang ingin mencapai segala sesuatu yang Allah sediakan bagi kita."

Mengenali tujuan anda akan memotivasi kehidupan anda.
Tujuan selalu menghasilkan keinginan yang kuat. Tidak ada yang bisa membangkitkan energi seperti tujuan yang jelas. Sebaliknya, keinginan yang kuat memudar bila anda tidak mempunyai tujuan. Bangun dari tempat tidur saja menjadi suatu tugas besar. Biasanya pekerjaan yang tidak berarti, dan bukan kelebihan kerja, yang meletihkan kita, menguras tenaga kita, dan merampas sukacita kita.

George Bernard Shaw menulis, "Inilah sukacita sejati dalam hidup: dipakai untuk suatu tujuan yang disadari oleh diri anda sebagai suatu tujuan yang hebat; menjadi suatu kekuatan alam dan bukannya sedikit penyakit dan keluhan yang bersifat mementingkan diri, dengan mengeluh bahwa dunia tidak mau memberikan segalanya untuk membuat anda bahagia."

Mengenali tujuan anda akan mempersiapkan anda untuk menghadapi kekekalan.
Banyak orang yang menghabiskan hidupnya dengan berupaya menciptakan warisan yang tanpa akhir di bumi. Mereka ingin dikenang ketika mereka meninggal. Namun, apa yang akhirnya paling penting bukanlah apa yang orang lain katakan tentang kehidupan anda tetapi apa yang Allah katakan. Apa yang gagal disadari oleh orang-orang adalah bahwa segala pencapaian pada akhirnya lewat, catatan-catatan rusak, reputasi memudar, dan pujian dilupakan. Di kampus, sasaran James Dobson adalah menjadi juara tenis sekolah. Dia merasa sangat bangga ketika pialanya ditempatkan secara menonjol di lemari piala sekolah. Bertahun-tahun kemudian, seseorang mengiriminya piala tersebut. Mereka menemukannya di sebuah tempat sampah ketika sekolah tersebut diperbaiki. Jim berkata, "Sesudah waktu yang cukup lama, semua piala anda akan dianggap sampah oleh orang lain!"

Hidup untuk menghasilkan warisan dunia adalah sasaran yang dangkal. Adalah lebih bijaksana kalau orang menggunakan waktunya untuk membangun suatu warisan kekal. Anda tidak ditempatkan di bumi untuk diingat. Anda ditempatkan disini untuk bersiap-siap menghadapi kekekalan.Suatu hari anda akan berdiri di hadapan Allah, dan Dia akan memeriksa kehidupan anda, suatu ujian akhir, sebelum anda memasuki kekekalan. Alkitab mengatakan, "Sebab kita semua harus menghadap tahta pengadilan Allah... Demikianlan setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah." Untunglah, Allah ingin kita lulus ujian tersebut, karena itu Dia telah memberi kita pertanyaan-pertanyaannya sebelumnya. Dari alkitab kita bisa menyimpulkan bahwa Allah akan menanyai kita dengan dua pertanyaan penting:
Pertama, "Apa yang telah kamu lakukan terhadap Anak-Ku, Yesus Kristus?" Allah tidak akan bertanya tentang latar belakang agama atau pandangan doktrin anda. Satu-satunya hal yang penting adalah apakah anda menerima apa yang Yesus kerjakan bagi anda dan apakah anda belajar untuk mengasihi dan mempercayai-Nya? Yesus berkata, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

Kedua, "Apa yang telah kamu lakukan terhadap apa yang telah Aku berikan kepadamu?" Apa yang telah anda lakukan dengan kehidupan anda, yakni semua karunia, talenta, kesempatan, energi, hubungan, dan kekayaan yang telah Allah berikan kepada anda? Apakah anda menggunakan bagi diri anda sendiri, ataukah anda menggunakannaya bagi tujuan-tujuan yang untuknya Allah menciptakan anda?

Sasaran buku ini adalah mempersiapkan anda menjawab dua pertanyaan ini. Pertanyaan pertama akan menentukan dimana anda menghabiskan kekekalan. Pertanyaan kedua untuk menentukan apa yang anda lakukan di dalam kekekalan. Pada akhir buku ini anda akan siap untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut.


Pokok untuk direnungkan:
Hidup berdasarkan tujuan adalah jalan menuju damai sejahtera.

Ayat untuk diingat:
"Engkau, TUHAN, memberikan damai sejahtera yang sempurna kepada orang-orang yang dengan teguh memelihara tujuan mereka dan percaya kepada-Mu."
[Yesaya 26:3]

Pertanyaan untuk dipikirkan:
Apakah yang menurut keluarga dan teman-teman saya merupakan daya penggerak kehidupan saya? Apa yang saya inginkan untuk menjadi penggerak kehidupan saya?